Saturday, April 19, 2014

3. That feeling exist but not for him.

“bisakah kau berhenti menginjak kakiku lagi? Sepatuku akan rusak!” desisnya ditelingaku.
“sudah kubilang aku tidak bisa berdansa, bodoh, jangan salahkan aku.”
“tidak bisa berdansa, huh?” katanya mengulang kembali perkataanku. “sepertinya tadi aku melihat kau berdansa seperti putri-putri bangsawan. Apakah kau sengaja ingin mempermalukanku?”
“AWW!!!” teriak Edgar kesakitan, spontan mata beberapa orang yang ikut berdansa melirik kearah kami dan tertawa pelan. Aku menginjak kakinya saking kesalnya dengan ocehan yang dikeluarkan olehnya. “berhentilah mengoceh, aku juga menginjak kaki Kevin tadi beberapa kali.”
“huh beberapa kali.” Desisnya lagi.
“kamu kenapa sayang? Kok daritadi murung mulu?”
Kevin menengok ke arah suara itu, mengganti pemandangan didepan matanya yang berdiri banyak orang bergerak kesana kemari, salah satu dari mereka adalah Edgar dan Andrea. Ia menatap Tyar dalam kemudian menanyakan pertanyaan yang sungguh menyentuh perasaan perempuan disampingnya itu, “Tyar, apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku?”
“apa yang kau bicarakan? Tentu saja iya, aku juga siap seperti Indah jika kita akan bertunangan malam ini juga.” Tyar memeluk Kevin memberikan suatu jawaban pasti bagi hati Kevin yang gundah, menentramkan hatinya yang gelisah.
Kevin serasanya hancur berkeping-keping mendengar kata-kata Tyar. Entahlah, tapi dia juga menyayangi tyar sama seperti dia menyayangi indah. Sayangnya untuk tyar, akan sedikit berbeda dengan sayangnya untuk indah. Indah hanyalah masa lalu dan tyar adalah masa depannya.
***

“kemana saja kau selama ini, kenapa baru pulang?” Tanya Edgar terlihat jengkel menunggu depan flat.
“apakah kau tidak lihat, aku masih menggunakan baju yang sama daritadi pagi?”
“tapi kenapa aku ke kelasmu kau tidak ada?”
“kapan?” tanyaku asal sambil mencari kunci dan membuka pintu flat itu.
“jam 12 tadi.”
“entahlah, mungkin aku sedang ke toilet.”
“tidak, aku menunggu sampai kelas masuk, dan kamu tidak ada didalamnya.” Jawabnya dengan nada datar. “apakah kau berbohong?”
“untuk apa aku berbohong.” Desisku tajam. “lagian untuk apa kau menanyakan hal-hal seperti ini, toh sekarang aku pulang.” Ucapku kasar. Aku sudah begitu capek hari ini dan aku tidak ingin diinterogasi macam-macam oleh dia.
Hari ini, aku bolos kuliah jam akhir, ketika istirahat aku flashback kehidupanku yang dulu, ketika semuanya belum ruwet seperti ini. Aku pergi ke kota tua lagi berusaha mencari suatu jawaban pasti, entah itu apa. Aku hanya butuh jawaban, tidak lebih. Kenapa begitu susah untuk mendapatkannya. Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Pertama, Kevin meninggalkanku. Yang dimana aku masih terus mencari suatu jawaban pasti dari mulutnya tentang ‘kenapa?’ tapi, mungkin inilah jawabannya, ada seseorang yang sepadan dan cocok dengannya, bukan aku, tapi dia. Ya pacarnya Kevin, sepupunya Edgar. Dunia sungguh tak selebar daun kelor ternyata. Aku harus mengenal dengan orang yang tak begitu ingin kukenal. Tyar wanita yang baik dan lemah lembut, begitu santun dan gemulai. Pembawaannya sempurna. Cantik dan berwawasan luas. Sama seperti Edgar, bijak dalam berkata-kata, kadang aku merasa risih bila aku membayangkan aku berdiri disebelah kiri dan tyar disebelah kanannya Kevin. Karena tyar lebih cocok. Aku sedih dan kecewa. Karena aku tak bisa menjadi seperti apa yang Kevin harapkan. Aku sungguh merasa sangat berdosa karena sempat berharap Kevin akan merebutku kembali sementara tyar yang tidak tahu apa-apa akan dilukai karena keegoisan diriku sendiri. Tyar terluka? Lebih baik aku, aku tak bisa membayangkan orang seperti tyar terluka.
Kedua, Edgar yang menurutku hidupnya begitu sempurna, ternyata kehidupannya begitu diatur oleh sang Oma. Pesta kemarin yang menjadikanku Cinderella, ternyata adalah pesta yang akan mengumumkan bahwa Edgar akan menjadi pewaris tunggal Oei Group sekaligus melaksanakan prosesi pertunangan yang sempat dirahasiakan sampai ia membawa seseorang untuk dijadikan tunangannya hari itu. Orang tua Edgar meninggal ketika dia berusia 8 tahun dalam kecelakaan lalu lintas di Barcelona. Edgar selamat, tapi kedua orang tuanya tidak. Luka yang bisa kau lihat adalah sebuah luka baret cukup panjang ditemporal kepalanya. Luka itu ternyata membawa sebuah trend mode sendiri baginya. Seperti potongan garis rambut yang dibuat dengan sengaja, tapi ternyata tidak. Kau hanya bisa melihat mungkin itu disengaja, tapi tak bisa kau rasakan bagaimana luka itu sendiri tertoreh cantik dikepalanya dan juga hatinya. Sampai saat ini aku terus berdoa, mengucap syukur karena mamah dan papahku masih tetap utuh walaupun dalam keadaan terpisah. Aku juga berdoa agar orang tua Edgar yang berada dijauh sana, memaafkan kebodohanku mengikuti permainan anaknya ini.
Aku selalu lari dari Edgar akhir-akhir ini, aku berusaha untuk ditemukan oleh pangeranku. Tapi pada akhirnya aku tetap pulang kepada Edgar dan dialah yang menemukanku. Dimana sebenarnya dirimu berada wahai pangeranku?
Ketiga, kuliahku disemester ini begitu kacau. Blok-blok yang harus kulewati sungguh sangat menyusahkan! Mulai dari system musculoskeletal, kardiovaskuler dan respirasi. Begitu padat jadwalnya dan ujiannya jangan ditanya lagi. Tiap kuliah pasti aku tidur, dan ada beberapa kali aku bolos kuliah saking ruwetnya semua hal ini dikepalaku. Aku butuh tidur tapi ketika aku berada diatas ranjang, aku jadi tak bisa tidur. Drama musical tinggal sebentar lagi, dan aku merasa tidak yakin akan menjadi pengiring acara itu. Teman-temanku begitu menyukai Edgar setelah aku mengenalkannya pada mereka, sebagai teman tentunya, tapi kenapa aku sama sekali tidak? Mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku tak bisa membayangkan jika harus menceritakan hal ini pada mereka. Mungkin aku akan menjadi satu-satunya anak FK yang telah bertunangan! Aku meminta hal yang sama pada Edgar dan tyar untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Tapi entah bagaimana Kevin dan orang-orang yang hadir pada saat pesta pertunangan. Cobalah kau membuang bulu-bulu ayam dari atas balkonmu. Dan cobalah untuk mengumpulkannya kembali, akankah semuanya terkumpul?
“aku ingin minta kunci duplikat flat-mu ini.”
Mataku membelalak dengan mulut kembung penuh dengan air.
“ya, kunci duplikat, flatmu.” Katanya menjelaskan lagi dan aku meneguk air yang terisi penuh dimulutku.
“oh apakah sekarang aku tidak memiliki ruanganku sendiri?” balasku sarkastik.
“aku bosan harus menunggumu berjam-jam diluar tanpa tahu kamu dimana!”
“yasudah, jangan datang kesini!”
“andrea!” panggilnya sementara aku berjalan dengan kesal menuju kamarku. “kenapa kau membuat segala sesuatunya begitu sulit?”
“aku? Membuatnya sulit?” tanyaku kembali dengan tawa sarkastik, kubanting pintu kamarku.
“besok aku jemput kamu, kita sama-sama ke kampus.” Ujarnya. Sepersekian detik tidak ada jawaban dariku, dia berteriak memanggilku, “andrea?”
“IYA!” teriakku dari kamar.
***

“apakah kau pacaran dengan Edgar, ndre?” Tanya areytha penasaran dalam bisikannya.
“hah, siapa bilang?” tanyaku terkejut. Dosen menoleh kearah kami, aku diam menunjukkan wajah tak tahu apa-apa.
“beberapa kali aku mendapati dirimu keluar dari mobilnya diparkiran. Ayo cerita, bagaimana kau bisa jadian dengannya!” bisik areytha lagi.
“apakah dia menjadi penyebab putusnya kau dengan Kevin?” Tanya Novi.
“a-apa? Tentu saja tidak, Kevin yang ingin putus denganku. Aku tidak tahu harus menyebut apa hubunganku dengannya.”
“PACARAN!” satu kata yang sama keluar dari dua mulut yang berbeda. Kelas dipagi itu terasa cerita dongeng bagiku yang dibubuhi sedikit kenyataan lewat ocehan kedua temanku itu. ‘sampai kapan aku harus berpura-pura?’ batinku gelisah. Sekilas balik aku terbayang kata-kataku sore kemarin pada Edgar, ‘apakah aku terlalu kasar padanya?’ batinku makin gelisah.
Seingatku, tadi pagi Edgar bilang dia ada kelas basket sore ini, jadi mungkin aku akan menghampirinya dilapangan kemudian meminta maaf.
“hey ndrea! Long time no see you, how are you!”
“hey cipt! Hahaha begitulah, masih sehat-sehat aja, kau? Kokoku mana?”
“sehat juga, mungkin sebentar lagi. Pemanasan dulu sana, kau sudah sangat lama sekali tidak bermain.”
“aku tidak bermain hari ini cipt, aku lagi nunggu temen.”
“wah siapa tuh?”
“tuh yang lagi main basket nomor punggung 07.”
“bukan Kevin?”
Aku cuman terkekeh pelan ketika ditanya seperti itu. “baiklah selamat menonton ya, aku main dulu.”
“oke.”
“hey, kenapa Cuma menonton saja?”
Aku menoleh mencari pemilik suara itu. Aku melongo mendapati siapa pemiliknya.
“kenapa kau bisa ada disini?” tanyaku konyol. Pertanyaan yang sebenarnya bisa kujawab sendiri.
“harusnya aku yang bertanya demikian, aku masih tetap aktif Judo. Bukannya kamu sudah berhenti badminton?”
“haha iya.”
“sedang menunggu siapa?”
“Edgar.” Jawabku sungkan mengingat pertemuan terakhir mereka sungguh tidak mengenakkan.
“baiklah, selama kamu menunggu bolehkan aku menemanimu?” tanyanya setelah melihat kearah lapangan basket dibawah. “ya tentu saja.”
Kami banyak bercengkerama hal-hal kecil. Hal-hal yang menurutku biasanya diceritakan padaku dan membuatku terhanyut dalam kisahnya, seperti dosen pembimbingnya yang menyebalkan setiap kali ia akan memasukkan judul proposalnya dosennya selalu hilang entah kemana, juniornya yang tidak bisa menentukan bangunan apa yang akan ia gambar, bahkan anak didiknya di judo yang kemarin hampir saja mematahkan selangkangannya. Aku ingin bercerita banyak hal, tapi aku membiarkan dia bercerita semaunya. Aku hanya duduk disampingnya dan mendengarkan ceritanya dan gaya bicaranya yang selalu membuatku berdebar-debar. ‘apakah aku masih mencintainya?’ tanyaku lirih.
Ekor mataku menatap pertandingan jauh disana yang makin memanas, “oh sh*t” pekikku ketika melihat kepala Edgar terhantam bola basket entah dari mana asalnya yang kontan membuatnya menatap orang yang melempar bola itu dengan ganasnya.
“maaf aku harus pergi, aku sangat ingin mendengarkan lanjutan ceritamu, tapi maaf aku harus pergi.” Selaku cepat mengambil ransel yang ada disampingku.
“b-baiklah.” Balasnya bingung melihatku berlari kecil menuruni anak tangga kemudian berlari kearah lapangan basket.
“apakah kamu baik-baik saja?” “apakah kau pusing?” “bagian mana yang sakit?” tanyaku tergesa-gesa. Edgar menatapku seperti ingin menelanku dengan kedua mata bulatnya. Ia masih terduduk menatap kebawah seperti sedang kesakitan.
“ayo kita pulang, aku yang akan menyetir.” Aku mengambil tasnya dan mencari kunci mobilnya. Ia berdiri berjalan meninggalkanku dikursi tangga situ, aku berlari kecil dibelakangnya dan meraih lengan kanannya berusaha untuk memapah walaupun kutahu aku tidak akan cukup kuat untuk memapahnya jika ia beneran jatuh. “aku tidak ingin pulang.” Ucapnya setelah dari tadi tidak berkata sepatah katapun.
“apakah kau merasa pusing? Lebih baik kita ke rumah sakit saja.” Tanyaku sambil membelokkan stir mobil kekiri ke jalan raya.
“tidak, aku ingin kerumahmu.”
“b-baiklah.”
***
“coba sini aku lihat kepalamu.” Kataku ketika kami sudah sampai di flat-ku. Aku mengajaknya duduk di sofa ruang tamu, dengan teliti ku telaah setiap sudut hantaman bola yang memukul kepalanya itu.
“sudahlah, aku tidak apa-apa.” Katanya sambil memegang tanganku menghentikan gerakan tanganku yang terus mengusap kepalanya tidak jelas.
“apakah kau yakin?”
Dia mengangguk kecil padaku dan tersenyum.
“by the way, ada yang ingin kusampaikan.” Ujarku pelan. “aku ingin meminta maaf atas kata-kataku kemarin. Kamu harus mengerti bagaimana perasaanku, kamu pria dan aku wanita, tidak mungkin kalau aku memberikan kunci flat-ku ini padamu. Aku tahu kalau kita sudah bertunangan, dan aku juga ingin cepat mengakhirinya.”
“sudahlah, aku tidak ingin membahas soal itu.” Balasnya. “aku sedang bertengkar dengan Sylvia karena pertunangan kita.” Edgar pernah menceritakan siapa nama “Syl” yang aku dengarkan di toilet waktu pesta pertunangan. Sylvia adalah pacarnya yang diketahui oma adalah putri salah satu pemegang saham di perusahaan Oma, Hendra Pratama. Hendra merupakan kerabat terdekat keluarga Kurniadjaja, ibunda Edgar, yang pada saat itu selalu ‘ikut campur’ mewakili Ratna dalam setiap rapat-rapat penting pemegang saham. Ia pernah dicurigai sebagai dalang kecelakaan yang menimpa orang tua Edgar, Satria Oei dan Ratna Kurniadjaja, karena menurut pertimbangan oma hendra selalu ingin mengambil alih kepemilikan saham Ratna sampai ia telah memiliki sahamnya sendiri di perusahaan. Tapi ketika diselidiki lebih lanjut Hendra Pratama bersih dari tuduhan itu dan balik menuntut Oma Miranda Oei atas tuduhan pencemaran nama baik. Hubungan antara Oma dan keluarga Pratama tidak berjalan dengan mulus semenjak saat itu walaupun mereka berdiri dalam satu atap perusahaan besar yang sama. Atas dasar itu, hubungan masa kecil antara Edgar dan Sylvia akhirnya harus dikorbankan sampai saat ini. Aku dan Edgar tetap menjalani kehidupan kami masing-masing. Aku dengan kesendirianku dan pengharapan bahwa Kevin akan berubah pikiran untuk kembali lagi denganku dan Edgar yang masih tetap backstreet dengan Sylvia. Singkatnya kami berdua memiliki status palsu dalam pertunangan yang diadakan.
“oh..” jawabku sungkan. Jadi itu alasan perubahaan moodnya yang drastis. Aku terduduk lemas disampingnya bersandar di sofa menahan nafas. Aku sungguh tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain.
“aku tidak menyalahkanmu, memang hubungan kami harusnya sudah berakhir sejak dulu.”
“apakah kau benar-benar mencintainya? Jika kau benar-benar mencintainya harusnya kamu tetap memperjuangkan hubungan kalian berdua, kamu harusnya membuktikan cintamu padanya didepan oma, bukannya membuat status palsu seperti ini.”
Edgar tertawa masam mendengarkan ucapanku, seperti meremehkan perkataanku. “tidak semudah itu, sayang. Baiklah aku akan pergi, kepalaku sudah tidak sakit lagi.”
“baiklah.”







No comments:

Post a Comment

Glad to have you here :)

CLICK FOR MONEY!

FellowEquality.com